Tampilkan postingan dengan label Makam Mbah Priok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam Mbah Priok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 November 2010

Foto-Foto Bentrokan Penggusuran Makam Mbah Priok

Berikut ini adalah foto-foto bentrokan antara warga Koja yang menentang penggusuran makam Mbah Priok dengan Satpol PP yang di bantu polisi, kejadian saat itu benar-benar chaos. Puluhan orang menjadi korban dari kedua pihak dan 2 anggota satpol PP tewas, semua itu terjadi karena tidak ada komunikasi yang kondusif antara kedua pihak dan penguasa yang lebih suka gunakan kekerasan

Warga koja yang sebagian adalah para santri pantang menyerah dan tidak mengenal takut untuk mempertahankan makam mbah Priok dari penggusuran, biarpun jumlah aparat mencapai ribuan!

Bentrok antara massa yang menolak aksi pembongkaran dengan petugas Satpol PP, Satpol PP di serbu massa yang mengamuk, berusaha memasuki area makam
Foto di saat anggota Satpol PP kuasai pintu masuk sekitar makam mbah Priok,setelah mereka berhasil merebutnya dari barikade massa


Warga sekitar menggunakan tameng polisi untuk melawan polisi


Warga yang terluka saat bentrokan


Mobil polisi di rusak warga


Massa berusaha menggulingkan Water Cannon milik polisi. Reuters/Supri.


Mobil satpol PP dibakar warga


Satpol PP mengevakuasi seorang anggotanya yang terluka


Polisi melawan Warga


Poto seorang bocah yang baru berusia belasan tahun yang sedang menjadi bulan-bulanan puluhan petugas satpol PP yang beringas


Habib Rizieq datangi lokasi bentrok di sekitar makam Mbah Priok, tujuannya untuk menenangkan massa dan meminta pihak Satpol PP untuk tinggalkan lokasi bentrokan


sumber : http://www.lintasberita.com/go/1030735

Fenomena Aneh Saat Penggusuran Makam Mbah Priok

Berita Lampung Fenomena Aneh Saat Penggusuran Makam Mbah Priok ; Hari masih pagi di kompleks Makam Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad (1727-1756), Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4). Sekitar 200 santri berkumpul di halaman makam guna "menyambut" tamu mereka: 4000 Satuan Polisi Pamong Praja

Karena tamu dianggap hendak menghancurkan kompleks makam keramat, santri mempersiapkan diri dengan berbagai senjata. Mulai bambu runcing, kayu yang dilengkapi paku, celurit, golok dan samurai. Diantara lantunan Shalawat Badar, persiapan perang mereka terhenti oleh teriakan salah satu santri: "Allahu Akbar". Di ufuk timur, terbentang awan berlafaz "Allah".

Dari foto yang direkam dengan kamera telepon genggam, awan itu memang tidak sepenuhnya berbentuk Allah. Lebih menyerupai huruf "w". Tapi penampakan itu cukup untuk membangkitkan semangat penjaga makam. "Kami yakin Allah bersama kami," kata Habib Alwi Al-Hadad, 46 tahun, seorang ahli waris makam kepada Tempo, Kamis (15/4).

Mungkin semangat itu juga yang membuat para santri berani menghadapi penyerang yang jumlahnya 20 kali lebih banyak. Batu-batu yang dilayangkan ke tubuh-tubuh kerempeng itu tidak sedikit pun menyakiti mereka.

Seorang wartawan yang melihat kejadian menuturkan buldozer sempat meruntuhkan tembok di kanan-kiri gapura yang bertulis "Ghubbah Al-Haddad". Namun saat hendak menghancurkan gapura, petugas operator tanpa ba-bi-bu ngacir meninggalkan mesin penghancur itu. Si wartawan sempat mendengar gumaman operator yang mengaku ketar-ketir melihat sosok manusia besar di depan gapura.

"Kesaktian" makam keramat itu bukan isapan jempol. Mbah Priok, begitu penghuni makam dikenal warga, dipercaya sebagai keturunan langsung Nabi Muhammad SAW.

Habib Ali Al-Idrus 38 tahun pengurus makam menuturkan Habib Hasan lahir di Ulu Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 1727. Menjelang dewasa, ia belajar agama Islam di Yaman Selatan. Setelah beberapa tahun, Habib Hasan kembali ke Palembang.

Pada tahun 1756, Habib Hasan Al-Haddad pergi ke Jawa bersama Habib Ali Al-Haddad dan 3 orang lainnya. Tujuan mereka untuk menyebarkan agama Islam dan mengunjungi makam pelopor Islam, seperti Habib Husein Alaydrus di Mesjid Luar Batang, Penjaringan Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya.

Di tengah laut, tentara Belanda berupaya menyetop dan menembaki perahu yang mereka tumpangi. Namun tidak ada satu peluru pun yang kena. Setelah dua bulan mengembara, rombongan itu dihantam badai di Pantai Utara Batavia. Badai berlangsung beberapa hari itu dan menghancurkan kapal yang tumpangi. Habib Hasan dan Habib Ali berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan pada perahu yang telah terbalik. Sementara tiga orang anggota rombongan lainnya tewas.

Kedua habib, sebutan untuk keturunan Nabi Muhammad, itu terapung-apung selama 10 hari. Karena lemas Habib Hasan pun meninggal dunia di usia 29 tahun. Sementara Habib Ali bertahan dan menyelamatkan jenazah saudaranya. Mereka terdorong oleh ombak ke pantai sambil diiringi ikan lumba-lumba.

Penduduk pesisir melihat korban kapal karam ini dan memakamkan Habib Hasan. Tempat pemakaman di lokasi yang sekarang adalah Pondok Dayung, Pos 1, Pelabuhan Tanjung Priok. Nama Pondok Dayung diambil dari Bahasa Sunda, dayung pendek. "Nisan kepala dari dayung pendek sisa kapal," kata Habib Ali kepada Tempo.

Sementara untuk nisan kaki digunakan pohon tanjung. Penduduk juga menaruh periuk nasi dari pecahan kapal di makam Habib Hasan. "Sehingga penduduk menyebutnya Tanjung Priuk hingga sekarang," lanjutnya.

Dua puluh tiga tahun setelah pemakaman Habib Hasan, pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Tanjung Priok. Mereka berupaya membongkar makam Habib Hasan. "Namun pekerjaan terhenti karena banyak kuli yang mati," kata Habib Abdulloh 36 tahun, abang Habib Ali.

Kemudian pemerintah meminta bantuan seorang Kiai yang dapat berkomunikasi dengan Habib Hasan. Dari situ didapatkan bahwa Habib Hasan minta makamnya dipindahkan jika ingin membangun pelabuhan. "Pemindahan harus seizin adik Habib Hasan, yaitu Habib Zen yang tinggal di Ulu Palembang," kata Habib Abdulloh menirukan permintaan leluhurnya itu. Habib Ali dan Habib Abdulloh adalah keturunan ke 6 Habib Zen.

Habib Zen pun mengizinkan Belanda merelokasi makam abangnya ke Jalan Dobo, Koja. "Saat diangkat jenazah masih seperti baru meninggal," kata Habib Ali.

Pemerintah Belanda menyediakan lahan seluas 7 hektare dan ghubah (bangunan kompleks makam) seluas 16x16 meter. Bangunan dengan atap berbentuk joglo dan berdinding putih ini masih berdiri tegak hingga kini. Di dalamnya, selain makam Habib Hasan, juga terdapat 8 makam anggota keluarga lainnya.

Menurut Habib Abdulloh setiap minggunya, setiap malam Jumat lima ratusan orang menjambangi makam ini. "Mereka menghadiri majelis tadzkir," katanya.

Berbagai kalangan, mulai dari kalangan bawah, artis bahkan petinggi negara seperti Abdurrahman Wahid pernah berkunjung kesana. "Salah satunya adalah SBY 2 bulan sebelum pelantikan (2004)," kata Habib Ali.

Pengunjung kebanyakan tidak diizinkan masuk oleh abang-adik penjaga makam itu. "Harus keturunan Sayid atau Habib (pemuka agama atau keturunan Nabi)," kata Habib Abdulloh.

Namun ketenangan Mbah Priok terus terusik. Pada 22 Desember 2004, PT Pelindo II berupaya menggusurnya untuk perluasan pelabuhan. Upaya gagal itu dikaitkan ahli waris dengan bencana yang menimpa Indonesia. Tiga hari kemudian, tsunami menghantam Aceh.

Menurut kuasa hukum ahli waris, Yan Juanda, Makam Mbah Priok merupakan "pasak bumi" Jakarta Utara. "Saya mohon, jangan ada lagi upaya untuk menghancurkannya," katanya di depan Wakil Gubernur Jakarta Prijanto dan Direktur Utama Pelindo II RJ Lino, Kamis kemarin.

Yan mengatakan, pemerintah dan Pelindo sebaiknya belajar dari sejarah. "Pemerintah Belanda saja minta izin keluarga untuk memindahkan makam," katanya.

Kalau pun pelabuhan perlu berbenah, keberadaan makam keramat tidak perlu digusur. "Di Singapura, arah jalan tol digeser untuk menghormati makam habib," ujar Yan.

Usai dibisiki tentang kekeramatan makam Mbah Priok oleh seorang ulama di Cirebon pada 2005, Yan menyampaikannya ke Fauzi Bowo, yang saat itu Wakil Gubernur. "Dia diminta untuk menjaga makam," kata Yan. Sekarang dia dan para ahli waris menagih janji itu.


sumber : http://www.lintasberita.com/go/1033105

Senjata Laser Indonesia Ditakuti Manca Negara ternyata berasal dari makam MBAH PRIOK


Pada bulan Maret tahun 2000, pemerintah Amerika, Jerman, Rusia, dan Australia dikejutkan dengan seberkas sinar yang memancar dari Indonesia hingga menembus ke luar angkasa dan tertangkap oleh satelit mereka.

Sinar tersebut diduga sebagai sinar laser yang ditembakkan dari Indonesia. Hal ini tentu sangat mengejutkan mereka. Senjata macam apa yang tengah dikembangkan Indonesia sehingga sinar yang ditembakkan bisa sehebat itu?

Merasa terancam, khawatir kalau sinar itu benar-benar berasal dari senjata laser, mereka mengirim utusan ke Indonesia untuk menyelidiki hal tersebut.

Setelah sampai di Indonesia, mereka segera menuju lokasi sumber sinar tersebut yang ternyata terletak tepat di makam Habib Hasan bin Muhammad al-Haddad yang lebih dikenal sebagai Mbah Priok.

Para ilmuwan ini menuturkan kepada ahli waris bahwa mereka melihat dari satelit terdapat sinar yang memancar dari Indonesia. Mereka menduga sinar tersebut merupakan senjata laser.

“Kemudian orang-orang asing itu mendatangi lokasi untuk mencari sinar laser yang menurut mereka itu adalah senjata laser. Ketika dilihat ternyata berasal dari makam kramat ini,” tutur penjaga makam Mbah Priok kepada okezone.

Makam Mbah Priok merupakan makam wali yang seharusnya dihormati. Ahli waris mempercayai, makam Mbah Priok merupakan paku bumi yang dijaga keberadaannya oleh malaikat dan Allah SWT.

Disebutnya, pihak-pihak yang bernafsu menggusur makam Mbah Priok, merupakan orang-orang yang tidak mengerti kesucian wali. “Minimal kalau mereka tidak mengerti wali, harus menghormati makam ini adalah makam sejarah, yang pertama kali menamai Tanjung Priok,” tuturnya.

Bekas penjajah bumi nusantara pun, Belanda, menghormati keberadaan makam yang berada di pinggir laut itu. Bahkan Belanda sempat berpesan, jika makam keramat ini tidak boleh diganggu, dibongkar, atau pun dipindahkan.


sumber : http://hotarticle.hadithuna.com/2010/05/02/senjata-laser-indonesia-ditakuti-manca-negara/